Indonesia merupakan salah satu  negara yang dapat menghasilkan minyak bumi dan gas (migas) dengan kapasitas yang besar. Untuk menunjang lalu lintas dan pengangkutan migas,  beberapa perairan dan pelabuhan dijadikan sebagai terminal bongkar muat minyak bumi dan gas. Karena itu, beberapa daerah yang terdapat terminal bongkar muat minyak dikategorikan oleh pemerintah sebagai kawasan tingkat pencemaran tinggi, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Dijadikannya perairan sebagai sarana penunjang dalam rangkaian kegiatan usaha minyak dan gas bumi (migas) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan hidup, salah satunya ialah tumpahan minyak ke komponen lingkungan darat maupun perairan, seperti yang terjadi pada tumpahan minyak yang terjadi di perairan Langsa dan Aceh Timur, Aceh. Tumpahan minyak ini, selain mengakibatkan kerusakan laut, juga berdampak pada nelayan setempat yang kehilangan area penangkapan ikan. Sehingga sebagian nelayan yang tidak melaut. Mereka yang tidak melaut menunggu agar pihak terkait bisa membersihkan sisa gelembung minyak di perairan dan area penangkapan ikan.

Tumpahan minyak di laut adalah lepasnya minyak baik langsung atau tidak langsung ke lingkungan laut yang berasal dari kegiatan pelayaran, kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, atau kegiatan lain. Tumpahan minyak yang terjadi di perairan ini tentu saja memberikan kerugian terhadap masyarakat,  baik kerugian ekonomi maupun lingkungan hidup yang sehat. Beberapa dampak lain tumpahan minyak, antara lain:

  1. Berdampak buruk terhadap organisme laut

Minyak memiliki banyak komponen seperti fraksi ringan, fraksi aromatik, dan fraksi aspaltin yang memberikan dampak toxic kepada organisme laut termasuk plankton yang merupakan makanan ikan.

  1. Rusaknya ekosistem di laut

Ekosistem pesisir dan laut (mangrove, delta sungai, estuari, padang lamun, dan terumbu karang) memiliki fungsi dan peran yang penting secara ekologis yaitu ekosistem tersebut merupakan daerah perkembangbiakan, penyedia habitat dan makanan untuk organisme dewasa serta mendukung jejaring makanan bagi ekosistem ataupun habitat lain disekitarnya. Tekanan dari masuknya tumpahan minyak akan mempengaruhi peruntukan sistem-sistem tersebut, ditambah lagi vulnerabilitas dari ekosistem tersebut sangat tinggi terhadap bahan beracun berbahaya di samping itu natural attenuation (dispersion and dilution) pada beberapa ekosistem seperti mangrove, estuari, padang lamun dan daerah dangkal di pantai relatif lebih lambat.

  1. Nelayan mengalami kerugian

Nelayan kehilangan area penangkapan ikan, sementara bagi nelayan yang tetap melaut harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mencukup bahan bakar, karena area penangkapannya bertambah jauh dari biasanya.

  1. Kerusakan tambak

Tumpahan minyak mengakibatkan kerugian pada tambak seperti tambak udang yang mengakibatkan seluruh udang mati. Selain itu kerugian juga dialami pada petambak garam dimana terdapat gumpalan minyak cokelat pekat dan beraroma tidak sedap yang membuat kualitas garam menjadi turun.

Beberapa peristiwa tumpahan minyak baik di perairan dan daratan yang terjadi dalam 5 (lima tahun) terakhir:

No. Tahun Lokasi Kejadian Keterangan
1. 2021 Perairan Langsa dan Aceh Timur Ditemukan indikasi gelembung gas berasal dari sumur H-4 Langsa Offshore yang berlokasi sekitar 30 mil laut dari pantai Kecamatan Kuala Idi.
2. 2021 Perairan Utara  Karawang, Jawa Barat Kebocoran pipa minyak karena korosi atau aging facility
3. 2020 Pesisir Pantai Makasar Terjadi kebocoran bahan bakar yang biasa digunakan untuk mesin kapal ini berasal dari flange to fange pipa bunker yang secara lokasi tidak terlihat oleh kasat mata lantaran posisinya tertutup plat sehingga bocoran minya melebar ke arah bibir pantai
4. 2019 Perairan Utara  Karawang, Jawa Barat Munculnya kebocoran gelembung gas di sekitar anjungan pengeboran sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang disebabkan oleh platform yang miring
5. 2018 Teluk Balikpapan, kalimantan Timur Putusnya pipa bawah laut terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas 7 x 800.000 Barrel ke tangki buffer di Balikpapan
6. 2018 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Wayame, Ambon, Maluku Diduga petugas lupa menutup tangki penampungan pada saat dilakukan aktivitas bongkar muat BBM dari kapal tanker yang bersandar di Dermaga TBBM Wayame
7. 2017 Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur Penyedot limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) ada kerusakan di seal atau karet pada Jetty 5B
8. 2016 Jalan Kesuma Bangsa, Tarakan, Kalimantan Utara Kebocoran pipa diakibatkan alat berat milik kontraktor PT Adhi Karya sedang melakukan penggalian untuk jaringan gas rumah tangga

Untuk mengatasi berbagai potensi tumpahan migas di laut dan dampak lainnya yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut. Peraturan ini dirancang dalam rangka penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut  secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Sehingga dapat mencegah dan mengatasi penyebaran tumpahan minyak di laut serta menanggulangi dampak lingkungan akibat tumpahan minyak di laut untuk meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut.