Dalam dua hari terakhir muncul informasi dan berita-berita yang membahas mengenai beberapa produk makanan dan minuman yang diproduksi oleh Nestle yang dilaporkan tidak sehat. Hal ini diketahui setelah dokumen internal Nestle beredar dan diterima oleh Financial Times, Minggu (6/6/2021).

Informasi dan berita mengenai tidak sehatnya beberapa produk makanan dan minuman yang diproduksi oleh Nestle tentu akan mempengaruhi masyarakat yang selama ini mengonsumsi produk-produk makanan dan minuman yang diproduksi Nestle. Nestle perlu melakukan langkah-langkah perbaikan dan komunikasi dengan masyarakat sebagai konsumen untuk meyakinkan bahwa produk-produknya tersebut betul-betul aman untuk dikonsumsi.

Langkah-langkah yang harus dilakukan Nestle tersebut perlu segera dilakukan  agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai konsumsi  produk makanan dan minuman Nestle yang diproduksi Nestle. Termasuk menyiapkan kebijakan dan solusinya yang dapat diterima dan berguna bagi masyarakat konsumen. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat Nestle merupakan perusahaan global yang memiliki reputasi dan standar yang tinggi dalam penghormatan hak asasi manusia dan keberlanjutan. Standar dan kebijakan yang dimiliki Nestle yang dirilis dalam laman website menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya harus mematuhi semua persyaratan hukum yang berlaku dan memastikan bahwa semua kegiatannya berkelanjutan, namun juga harus menciptakan nilai yang signifikan bagi masyarakat.

Dalam hal ini Nestle mengakui bahwa Prinsip-Prinsip Bisnis yang dijadikan pedoman Nestle di semua negara telah, disesuaikan dengan undang-undang lokal, praktik-praktik budaya dan agama, khususnya Indonesia. Sehingga dalam operasionalnya, Nestle bertujuan “meningkatkan kualitas kehidupan para konsumen setiap hari, di manapun mereka berada dengan menawarkan pilihan produk makanan dan minuman yang lezat dan sehat, serta mendorong gaya hidup sehat”.

Nestle juga telah menjanjikan bahwa Nestle memiliki Jaminan Mutu dan Keamanan Produk. Di seluruh dunia, nama Nestlé menjanjikan produk yang aman dan berkualitas tinggi kepada konsumen. Komitmen ini diperkuat dengan Komitmen Nestle terhadap Hak Asasi Manusia. Nestle menyatakan mendukung penuh prinsip-prinsip United Nations Global Compact tentang hak asasi manusia dan ketenagakerjaan dan bertujuan untuk memberikan contoh-contoh mengenai hak asasi manusia dan praktik ketenagakerjaan di seluruh kegiatan bisnis. Termasuk didalamnya komitmen atas praktik bisnis yang berwawasan lingkungan. Nestle menyatakan bawa pada semua tahap masa pakai produk, kami berupaya untuk menggunakan sumber daya alam secara efisien, lebih memilih menggunakan sumber daya yang terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan dan menetapkan sasaran limbah nol.

Langkah-langkah yang hrus dilakukan Nestle ini relevan dengan kebijakan yang dikeluarkan Swiss sebagai negara asal Nestle yang telah mengeluarkan National Action Plan on Business and Human Rights yang didalamnya berisi mengenai tanggungjawab perusahaan terhadap hak asasi manusia. Sebagaimana ditetapkan dalam Pilar Kedua Prinsip-prinsip PBB Mengenai Bisnis dan Hak Asasi Manusia:

  1. Perusahaan harus menghormati hak asasi manusia. Hal ini berarti mereka harus menghindari melanggar hak asasi manusia pihak lain dan harus mengatasi dampak yang merugikan terhadap hak asasi manusia dimana mereka terlibat.
  2. Mengatasi dampak hak asasi manusia yang merugikan membutuhkan usaha-usaha yang cukup untuk pencegahan, mitigasi, dan, bila diperlukan, melakukan pemberian pemulihan. Perusahaan dapat menjalankan komitmen atau aktivitas mereka yang lain untuk mendukung dan memajukan hak asasi manusia, yang dapat memberikan kontribusi kepada penikmatan hak. Namun, ini tidak dapat digunakan untuk menutupi kegagalan untuk menghormati hak asasi manusia di seluruh operasi mereka.

Untuk itu, berkaitan dengan beredarnya informasi yang menyebut 60 persen produk Nestle tidak memenuhi standar Kesehatan, Business and Human Rights Institute (BHRI) mendorong agar Nestle segera melakukan langkah-langkah konkrit untuk merespon informasi tersebut, antara lain dengan:

  1. Menegaskan kembali komitmen kebijakan untuk memenuhi tanggung jawab perusahaan untuk menghormati hak asasi manusia;
  2. Melakukan proses uji tuntas hak asasi manusia untuk mengidentifikasi, mencegah, melakukan mitigasi, dan perhatian atas bagaimana mereka mengatasi dampak-dampak pada hak asasi manusia terkait produk-produk makanan dan minuman yang diproduksinya;
  3. Melakukan proses pemulihan atas setiap dampak buruk terhadap hak asasi manusia yang merugikan yang mungkin timbul sebagaimana laporan yang menyebutkan 60 persen produksinya tidak aman bagi Kesehatan.

Tidak hanya Nestle, BHRI juga mendorong agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan langkah-langkah pro aktif untuk menggali dan mengetahui informasi yang muncul dalam financial times (6/6/2021) tersebut, sehingga masyarakat konsumen memiliki pengetahuan dan keyakinan mengenai keamanan dan kesehatan produk-produk makanan dan minuman yang diproduksi Nestle.