Sejak Oktober – November 2021, BHR Institute telah mampu menyelenggarakan Basic Training untuk Memahami Kerangka dan Praktik dalam Sistem Peradilan Pidana sebanyak 3 angkatan. Training ini melibatkan 90 peserta yang datang dari berbagai kementerian/lembaga termasuk perusahaan swasta.

Dalam training yang diadakan secara offline ini, beragam materi disajikan oleh BHR Institute yaitu: Sistem hukum Indonesia, Sistem peradilan pidana Indonesia, Peradilan Militer, Pengadilan HAM, Sistem Peradilan Pidana Anak, Hukum acara pidana, Hukum Acara Perdata, Mekanisme Intervensi Pengadilan : Penyusunan Amicus Curiae, Penyusunan Legal Opinion, Praktik Wawancara, dan Victims Impact Statement (VIS)

Victim Impact Statement adalah materi yang relative baru dikenal di Indonesia. Menurut Wahyu Wagiman, Managing Director BHR Institute, meski Victim Impact Statement belum diakomodasi dalam sistem peradilan pidana, namun BHR Institute menganggap bahwa mekanisme atau alat yang berupa Victim Impact Statement perlu diperkenalkan sedini mungkin untuk memperkuat perlindungan terhadap korban kejahatan di Indonesia.

Victim Impact Statement, menurut Wahyu, adalah pernyataan baik tertulis atau lisan, yang disampaikan oleh korban kejahatan ke pengadilan pada saat pengadilan memeriksa terdakwa. Victim Impact Statements pada dasarnya dibuat sebagai sebagai kesempatan bagi pengadilan untuk mendengar bagaimana suatu peristiwa kejahatan telah berdampak pada korban dan juga keluarga korban.

Dengan perkembangan peraturan perundang – undangan terkait perlindungan korban kejahatan di Indonesia, BHR Institute memulai inisiatif untuk memasukkan Victim Impact Statements dalam kurikulum pengajaran yang tersedia.

Para pengajar dalam pelatihan yang diselenggarakan BHR Insitute juga para pakar dan ahli yang mampu menjelaskan secara ringkas bagi para peserta yang memiliki berbagai latar belakang pengetahuan dan profesi. Para pengajar yang dihadirkan diantaranya adalah: Abdul Haris Semendawai, S.H., LL.M. – Ketua Program Studi S3 di Fakultas Hukum Universitas Islam As-syafiiyah, Erasmus Napitupulu – Direktur Eksekutif ICJR, Jesconiah Siahaan, S.H., LL.M. – Managing Partner di Siahaan Gea, Paku Utama, Ph.D. – Founder Wikrama Utama, Dio Ashar Wicaksana, S.H. – Direktur Eksekutif IJRS, dan Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M., Ph.D. – Pengajar Fakultas Hukum UGM